Sudah Tahukah Anda Sejarah Cincin Tunangan, Simak Disini!
Cincin Tunangan – Cincin dahulu identik digunakan oleh pasangan yang menikah. Tetapi, kini cincin tidak hanya berhubungan dengan pasangan yang sudah menikah saja. Kehadiran cincin ternyata juga digunakan oleh para pasangan untuk mengungkapkan maksud atau tujuan menikahi seseorang atau melamar kekasihnya. Namun, sudah tahukah Anda jika ternyata cincin tunangan pada saat lamaran sudah ada sejak zaman dahulu?
Baca juga : Cincin Kawin
Asal-usul cincin tunangan memang tidak diketahui secara pasti, banyak orang menyebutkan cincin tunangan ditemukan pertama kali oleh orang Mesir kuno. Kemudian, penggunaannya diadopsi oleh orang Yunani kuno, yang kemudian mereka jadikan sebagai salah satu tradisi mereka. Akan tetapi, sejarah tersebut belum tentu kebenarannya, karena cincin tunangan dapat benar-benar ditelusuri jejaknya mulai pada masa Romawi Kuno.
Pada abad ke-2 SM bangsa Romawi kuno umumnya masih menggunakan cincin dari bahan besi. Kemudian, pejabat setempat mulai beralih menggunakan bahan emas sebagai cincin yang hanya digunakan saat mereka berkunjung ke luar negeri. Hal tersebut ternyata juga berpengaruh pada calon pengantin yang ingin melangsungkan pernikahan. Calon pengantin akan diberikan dua cincin yang masing-masing terbuat dari besi dan emas. Cincin terbuat dari emas akan digunakan saat bepergian atau di depan umum, sedangkan cincin besi dikenakan pada saat mengerjakan berbagai tugas rumah tangga.
Pada abad ke-14 hingga 17 di zaman Renaissance, cincin tunangan dengan batu berlian digunakan pertama kali saat pertunangan kaum bangsawan di Austria. Hal inilah yang kemudian berpengaruh pada kaum sosial yang lebih tinggi dengan kekayaan berlimpah ikut memberikan cincin pada saat melamar seseorang yang dicintainya. Popularitas dari cincin lamaran dengan batu berlian ini pun kemudian semakin menurun pada abad ke-20an di Amerika Serikat, terlebih setelah meletusnya PD I. Selama itu pula harga berlian di pasaran ikut anjlok dan cincin lamaran sudah mulai tidak diminati oleh kalangan muda saat itu.
Akan tetapi pada tahun 1938, sebuah organisasi perusahaan atau kartel bernama De Beers mulai melakukan kampanye pemasaran dengan tajuk 4C, yaitu “cut, carat, color, and clarity” atau “potongan, karat, warna, dan kejernihan”. Kampanye ini berdampak besar terhadap penjualan cincin tunangan saat itu. Hingga akhirnya di tahun 80an, hampir 80% pasangan memiliki cincin pertunangan. Pada abad-21, peradaban Barat juga sudah menganggap lazim penggunaan cincin ini. Budaya menggunakan cincin pertunangan ini berbeda-beda, dimana ada yang menggunakan cincin yang sama pada pria dan wanita. Ada pula yang menggunakannya sekaligus sebagai cincin kawin.
Budaya melamar dengan menggunakan cincin ini kemudian bertahan hingga sekarang dan mulai lazim digunakan juga oleh masyarakat Indonesia. Cincin tunangan unik menjadi salah satu tanda ikatan awal sebuah hubungan serius yang akan menuju ke jenjang perkawinan. Hingga kini, sudah banyak model dari cincin tunangan yang ditawarkan di pasaran. Meskipun demikian, Anda tidak perlu bingung karena Anda tetap bisa menemukan cincin tunangan yang tepat hanya di Passion Jewelry. Passion Jewelry adalah sebuah butik perhiasan pertama di Indonesia yang dapat melakukan pembelian secara offline maupun online. Sebagai sebuah butik perhiasan ternama, tentunya Passion Jewelry menyediakan berbagai koleksi perhiasan yang bisa Anda intip pada gallery. Untuk informasi lebih lanjut, dapat Anda peroleh melalui website official Passion Jewelry di passionjewelry.co.id.
The First Indonesia OMNI Channel Jewelry Boutique,
All Item Ready Stock
